JAKARTA | BuletinNTT.com – Di tengah darurat literasi yang membayangi Nusa Tenggara Timur, tiga orang dari Nagekeo datang membawa kabar baik.
Dua pekan lalu, di sebuah ruangan besar milik Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikdasmen di Jakarta, Oskarianus Meta, Maria Sefriana Sebo, dan Ermelinda Ude Ugha berdiri menyampaikan satu keyakinan yaitu krisis literasi di NTT bisa dikalahkan. Syaratnya kolaborasi dan berjejaring.
Oskarianus Meta bisa dipanggi Oskar, adalah lelaki yang gampang tersenyum. Senyumnya renyah, tapi siapa sangka di balik itu ada cerita panjang tentang putus sekolah.
Setelah tamat SMP, ia putus sekolah dan menjadi pedagang ikan di pasar. Namun ada sesuatu dalam dirinya yang menolak padam.
Ia kembali ke bangku sekolah dan akhirnya meraih gelar Sastra Inggris dari STIBA Cakrawala Nusantara Kupang.
Pendidikan yang ia tempuh dengan susah payah itu tidak ia simpan untuk diri sendiri. Tahun 2012, Oskar mendirikan Taman Baca Masyarakat bernama Pelita Harapan Rakyat, disingkat PELIHARA.
Demi mengisi rak-rak TBM itu, ia rela menjual kerbau, babi, bahkan jagung hasil panen sendiri.
Di NTT, ternak adalah simbol kemakmuran keluarga, tapi Oskar memilih mengorbankannya agar anak-anak putus sekolah di desanya bisa memeluk buku dan pengetahuan. “Saya tidak ingin mereka merasakan nasib yang pernah saya rasakan,” ujarnya pelan.












