Kepala sekolah, pengawas, guru, dan pegiat literasi mendapat pelatihan dan pendampingan intensif.
Mereka dibekali cara melakukan asesmen, mengembangkan pembelajaran berdiferensiasi, teknik membacakan buku, hingga mengelola pembelajaran dengan pendekatan transisi dari bahasa ibu ke bahasa Indonesia.
Perpustakaan pun dibenahi agar ramah dan menyenangkan bagi anak, dan buku-buku yang sesuai disediakan.
Hasilnya tidak main-main. Hasilnya, Rapor Pendidikan Nagekeo bertengger di peringkat atas Provinsi NTT dengan status hijau tiga tahun berturut-turut.
Tiga orang dari Nagekeo ini datang membawa pesan sederhana tapi penting. Di mana masih ada guru yang rela menapaki Jalan Golgata, di mana ada lelaki yang menjual ternaknya demi buku, di mana ada perempuan yang memilih bahasa ibu sebagai jembatan, di sanalah krisis literasi bisa dikalahkan.
NTT tidak kekurangan anak cerdas. NTT hanya perlu lebih banyak kolaborasi dan berjejaring seperti ini.












