
Pada 2013, PELIHARA resmi berkembang menjadi Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) dan kini berakreditasi A.
Setelah mendidik lebih dari 4.000 anak tidak sekolah (ATS), Oskar menemukan satu pelajaran penting: setiap anak membawa latar dan cara belajarnya sendiri.
Dari pengalaman itulah PKBM PELIHARA menerapkan kurikulum yang personal. Setiap anak didampingi sesuai kemampuannya, bukan berdasarkan usia.
Ada L, misalnya, seorang siswa yang usianya setara kelas 1 SMP, tapi kemampuan bacanya baru selevel kelas 3 SD.
Ia tinggal bersama kakek-neneknya yang buta huruf, sementara orang tuanya bekerja di luar negeri. Di NTT, cerita seperti ini sudah biasa. Dua tahun kemudian, L yang tadinya masih mengeja, kini sudah bisa membaca buku dengan pemahaman penuh.
Itu terjadi karena L mendapat pendampingan belajar yang personal sesuai kemampuannya.
Bagi Oskar, ini bukti bahwa anak putus sekolah bisa pulih kemampuan belajarnya, asal ditangani satu per satu.












