Dua bulan menjalani pendampingan intensif, kemampuan membaca anak-anak naik ke level membaca kata. Ermelinda kemudian mulai memanfaatkan perpustakaan yang sudah ditata ramah anak berkat dukungan Taman Baca Pelangi.
Setiap Rabu, siswa bergiliran membaca di perpustakaan. Buku boleh dipinjam dan dibungkus plastik agar tidak basah kena hujan.
Sepuluh bulan berselang, hasilnya berbicara sendiri. Dari semula hanya satu anak yang mengenal huruf, kini 14 siswa sudah lancar membaca dan 3 di antaranya bahkan sudah sampai ke tahap membaca pemahaman.
Bagi Ermelinda, ada tiga hal yang menjadi kunci kemajuan ini: panggilan hidup sebagai guru, pelatihan yang intensif, dan ketersediaan buku yang sesuai.
Yang paling mendasar dari semua itu adalah pendekatan transisi bahasa. Anak-anak NTT mayoritas tumbuh dalam bahasa daerah, dan ketika masuk sekolah formal, mereka menghadapi bahasa Indonesia yang terasa asing.
Memulai pembelajaran dari bahasa yang sudah mereka kuasai bukan langkah mundur, melainkan jalan yang justru mempercepat pemahaman. Di Nagekeo, itulah yang terbukti mengubah segalanya.
Tiga kisah tadi tidak lahir dari keberanian satu dua orang saja. Di belakangnya ada kolaborasi antara Pemerintah Kabupaten Nagekeo, Program INOVASI, Taman Baca Pelangi, sekolah, dan komunitas.












