Perpustakaan yang semula suram dirombak jadi ruang ceria yang mengundang anak berlama lama. Buku buku menarik sesuai jenjang kemampuan mulai tersedia. Guru guru dilatih mengelola perpustakaan dan membacakan buku dengan macam macam cara.
Sedangkan dalam proses pembelajaran, guru juga didampingi mengajarkan literasi secara lebih terarah. Setiap awal tahun, semua siswa diasesmen kemampuan membacanya. Hasil asesmen itu jadi dasar untuk menyusun strategi dan materi pembelajaran.
Maria juga membentuk tim pendamping belajar khusus buat siswa yang paling tertinggal. Pendekatan ini membuat lompatan besar.
Salah satu muridnya, sebut saja R, waktu awal kelas 4 hanya bisa membaca suku kata, setara anak kelas awal. Sekarang ia sudah bisa membaca dengan pemahaman. Dulu waktu istirahat ia habiskan dengan bermain, sekarang ia malah memilih membaca buku di perpustakaan.
Hasilnya terlihat jelas di rapor pendidikan sekolah. Tahun 2021 semua indikator masih merah. Tahun 2022 dan 2023 naik ke kuning. Puncaknya, pada 2024 dan 2025, seluruh indikator rapor pendidikan SD Katolik Doki berwarna hijau.
Jalan Golgata yang dulu berat itu kini berubah jadi jalan menuju kemenangan.
Maria percaya pelatihan dan pendampingan guru yang intensif, pemanfaatan buku anak, dan bantuan belajar kepada anak yang tertinggal menjadi alat pengungkit kemampuan membaca siswa di sekolahnya. Alat ini pula yang bisa digunakan untuk mengalahkan krisis literasi di NTT.












