Opini | Yohanes Made Supadi, SE..M.Si
“Dosen STIE Oemathonis | Ketua Pengawas KSP Kopdit Solidaritas Sta. Maria Assumpta Kupang”
KUPANG | BuletinNTT.com – Setiap mahasiswa akuntansi diajarkan satu mitos sejak semester pertama: akuntansi itu netral, objektif, bebas nilai. Ia hanya mencatat. Ia hanya menyajikan fakta. Ia tidak berpihak.
Tetapi mari jujur. Tidak ada sistem pengetahuan yang lahir di ruang hampa. Akuntansi modern tumbuh bersama kapitalisme industri.
Ia berkembang ketika pasar modal membutuhkan bahasa untuk mengukur keuntungan, mengontrol biaya, dan memastikan modal terus bertambah. Maka jangan heran jika jantung akuntansi hari ini berdetak mengikuti irama pasar.
Indonesia pun tidak luput dari arus itu. Kita mengonvergensikan standar nasional dengan standar internasional yang dikeluarkan oleh International Financial Reporting Standards Foundation.
Konvergensi ini dipuji sebagai kemajuan demi transparansi, demi kepercayaan investor dan demi integrasi global.
Namun jarang ada yang bertanya: transparan untuk siapa? Akuntabel kepada siapa? Dan menguntungkan siapa?
Standar global itu dirancang terutama untuk pasar modal. Fokusnya jelas: perlindungan investor dan peningkatan nilai pemegang saham.












