Scroll untuk baca artikel
NasionalPendidikan

Tiga Orang Nagekeo Melawan Krisis Literasi

Avatar photo
×

Tiga Orang Nagekeo Melawan Krisis Literasi

Sebarkan artikel ini
Reporter: Ben |  Editor: Redaksi

Lain lagi cerita dari kaki Gunung Ebulobo. Di sana, Ermelinda Ude Ugha menghadapi 18 murid kelas I yang semuanya tidak bisa membaca dan tidak mengerti bahasa Indonesia.

Dari 18 anak, hanya satu yang kenal huruf. Ironisnya, semua pelajaran tetap harus disampaikan dalam bahasa Indonesia. Ermelinda tidak mundur menghadapi kenyataan itu.

Scroll Untuk Lanjutkan Membaca
Advertising!

Ia justru mengubah keterbatasan menjadi strategi: menjadikan bahasa Nage sebagai jembatan menuju bahasa Indonesia.

Langkah pertama adalah memetakan kondisi setiap anak. Ermelinda menggunakan Profil Belajar Siswa (PBS) untuk mengenali kemampuan dan hambatan masing-masing.

Baca Juga :  HUT ke-64 Jemaat Ebenheser, Yaspora NTT Titip Harapan Lewat Buku untuk Anak-anak

Dari situ teridentifikasi satu anak berkebutuhan khusus. Kepala sekolah lalu membentuk tim pendamping belajar khusus bagi anak-anak yang belum mengenal huruf sama sekali, dan mereka didampingi satu per satu.

Pendekatan ini bisa berjalan karena guru-guru di Nagekeo sudah dilatih menggunakan bahasa Nage sebagai bahasa transisi. Setiap hari, pembelajaran dalam bahasa Nage diberikan selama 35 menit untuk kelas awal dan 15 menit untuk kelas tinggi.

Selain di sekolah, bantuan belajar juga disediakan di rumah dengan waktu yang fleksibel. Satu hal yang menarik: siswa boleh memilih sendiri guru pendamping yang mereka sukai, sebuah pilihan kecil yang ternyata berdampak besar pada kenyamanan belajar mereka.