Dan saat itu aku berjanji bahwa pusat kebahagiaanku hanyalah kepada ibuku dan diriku sendiri.
Aku tidak mempunyai banyak teman seperti kebanyakan anak di luar sana, semua itu karena kepribadianku yang mulai hilang komunikasi social dengan sesama yang berawal dari keadaan dan kisah hidupku yang begitu rumit.
Di suatu malam, waktu itu sekitar jam 11 malam, hujan tengah mengguyur bumi dengan derasnya, dan waktu itu aku duduk termenung memandangi rintik hujan yang turun ketbumi.
Saat itu aku benar-benar merasa sepi,pikiranku berkelana disetiap sudut perjalanan hidupku tanpa seorang ayah.
Aku merindukan pelukan mesra seorang ayah yang belum pernah aku rasakan, aku menantikan untuk mengukir momen indah bersamanya, aku memang sangat membenci sosoknya tapi aku juga tidak bisa berpura-pura tak merindukan sosoknya.
Kerinduan ini sangat abadi dan tidak pernah sampai kepadanya entah sampai kapanpun itu.
Tak terasa air mataku mengalir begitu derasnya, aku membiarkan diriku meluapkan semua emosi dalam diriku, hingga aku tertidur karena kelelahan akibat menangis.
Pagi itu aku beraktifitas seperti biasa layaknya tidak terjadi apapun, aku berangkat ke Sekolah sangat pagi mengingat waktu itu aku sudah duduk di bangku kelas 3 SMA dimana aku sudah mulai sibuk mempersiapkan diriku untuk mengikuti ujian kelulusan.












