Pagi itu aku tidak sengaja menumpahkan air dan mengenai sepatu ayahku, saat ia sedang duduk dan sarapan.
Ayahku murka dan menghajarku habis-habisan pagi itu bukan hanya pukulan yang aku terima tapi kata-kata kasar pun aku dengar dari mulutnya, aku terduduk disudut ruangan dengan tubuh yang bergetar hebat karena ketakutan dan kesakitan sekaligus.
Setiap hari aku diperlakukan tidak adil, dan semua itu terjadi sampai aku duduk di bangku SMA, semua kekerasan aku rasakan,kondisiku cukup memprihatinkan baik fisik maupun psikis.
Aku selalu membungkus Lukaku sendirian, aku begitu pintar menyembunyikan semua kepedihan yang aku rasakan agar tetap terlihat kuat dan ceria didepan orang-orang bahkan aku mengarang cerita tentang kehidupan keluargaku yang harmonis dihadapan teman sekelasku waktu SMA.
Bagaimana tidak, aku dikelilingi teman-teman yang keluarganya begitu sempurna menurutku, yang biasanya disebut “Keluarga Cemara”.
Aku memang lahir dari keluarga yang tidak sempurna, namun hal itu tidak membuatku menjadi anak yang malas ataupun acuh dalam belajar.
Dari SD hingga masuk ke jenjang SMA, aku selalu memperoleh penghargaan baik sebagai juara kelas maupun penghargaan dari lomba-lomba yang aku ikuti.












