Akupun mulai bertanya lagi kepada ibuku tentang keberadaan ayahku. Akhirnya ibuku menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
Hatiku begitu sakit mendengar penuturan sang ibu, disaat itu yang aku rasakan hanya kebencian dan seketika itu juga semua rasa sayangku kepada ayahku hilang tanpa meninggalkan bekas sedikitpun.
Setelah usiaku yang ke 6 tahun, akupun mulai hidup dalam bayang-bayang akan hinaan dan ejekan dari teman-teman seusiaku, bahkan tak jarang keluargaku juga menyudutkanku.
Satu kalimat yang begitu menyakitkan yang hingga saat ini begitu terpatri dalam pikiranku dan melekat begitu sempurna dalam hatiku ialah kalimat,”ANAK YANG TIDAK PUNYA AYAH SEPERTIMU TIDAK PANTAS BERADA DISINI’ kata-kata yang keluar dari orang yang sudah kuanggap keluargaku sendiri, menorehkan luka yang begitu mendalam.
Aku tumbuh dengan semua kalimat menyakitkan itu setiap hari, baik dilingkungan rumah maupun di Sekolah.
Pada suatu waktu saat aku duduk dibangku kelas 1 SD, saat itu Sekolah mengadakan acara pentas seni, dan semua siswa diwajibkan membawa orang tua lengkap ke sekolah.
Saat aku pulang kerumah aku memberitahukan informasi tersebut kepada ibuku, “ibu, besok akan ada pentas seni di sekolah dan semua siswa harus membawa orang tua mereka ke Sekolah”












