Manusia terkadang hanya pintar mengomentari tanpa melihat seberapa keras perjuangan seseorang, jadi jangan pernah jatuh dalam perangkap itu”. Kalimat itu begitu aku ingat, bahkan hingga sekarang.
Mulai saat itu, aku berusaha tetap berdiri tegak diatas tajamnya pisau yang menusukku, aku tidak peduli lagi apa kata orang terhadapku, aku membentuk sendiri mentalku untuk menghadapi segala sesuatu yang terjadi, karena aku sadar, aku tidak mempunyai sosok seorang ayah untuk melindungiku tapi aku punya Ibu dan Tuhan yang begitu menyayangiku.
Meskipun aku jatuh berulang kali tapi aku masih sanggup berdiri, meskipun aku terluka berulang kali tapi aku masih bisa menyembuhkan lukanya meski nantinya luka itu meninggalkan bekas yang begitu terlihat.
Aku berusaha keras setiap harinya, aku belajar dengan giat, mengikuti setiap perlombaan yang diselenggarakan dan aku memperoleh hasil yang memuaskan dari semua itu.
Saat aku sudah duduk di bangku SMA aku ditantang habis-habisan melalui berbagai lomba dan kegiatan-kegiatan Pendidikan.
Dan hal yang paling menyakitkan terjadi lagi disaat aku diikutsertakan dalam perlombaan drama waktu hari ayah.
Nahasnya, aku berperan sebagai anak yang kehilangan sosok ayah, drama yang sangat nyata dalam hidupku sendiri.












