Akupun melepas pelukan itu dan beranjak menuju panggung untuk menerima penghargaan.
Saat itu aku diminta mengucapkan sepatah dua kata. Dan akupun mengucapkan terima kasih terhadap semua orang yang mendukungku disaat aku terjatuh dan tak mampu bangkit dan aku mempersembahkan penghargaan itu kepada ibuku.
Saat semua acara tersebut telah selesai, aku duduk sendirian di taman sekolah, aku membayangkan betapa pahitnya perjalanan hidupku selama ini.
Tumbuh tanpa sosok seorang ayah, tidak pernah merasakan cinta dan perhatiannya. Aku begitu percaya diri bahwa aku kuat menghadapi semua itu tanpa sosoknya.
Aku lupa, langkahku pincang kala tak ada sosok ayah disisiku. Sekuat apapun aku,setabah apapun aku. Aku sadar, aku lemah tanpa sosokmu, ayah.
Andai ayah ada Bersama denganku saat ini, aku pasti sudah memeluknya dengan begitu erat.
Namun aku sadar semua itu tak akan mungkin terjadi. Aku mulai belajar untuk tidak membenci sosoknya, karena biar bagaimanapun juga Ia adalah orang tuaku, meskipun kepergiannya menorehkan luka yang begitu dalam.
Tidak ada peluk yang bisa menenangkan seorang anak perempuan selain pelukan seorang ayah. Aku merindukanmu….Ayah.
Dari kisahku ini aku hanya ingin agar semua anak yang telah kehilangan sosok seorang ayah, dilarang keras menyerah dan putus asa.












