Kataku sambal menatap manik mata ibuku. Ia hanya diam tanpa menjawabku, saat aku membenarkan pandanganku, aku mendapati ibuku menangis.
Bulir-bulir bening itu jatuh membasahi pipi ibuku, aku tak sanggup melihat semua itu dan akhirnya aku memeluk dan meredakan isak tangis ibuku.
Keesokan harinya, aku memutuskan untuk tetap ke Sekolah meski hanya dengan ibuku.
Saat di Sekolah banyak pasang mata tertuju padaku dan suara bisik-bisikan dari segala arah terdengar. Ada yang menghinaku dengan berkata “ Yah kasian sekali si Ririn, ayahnya lebih mencintai wanita lain, jadinya sekarang dia tidak datang Bersama ayahnya”
Begitulah kira-kira semua kalimat yang aku dengar, tapi aku tetap berusaha tegar menghadapi setiap kalimat menyakitkan seperti pisau yang dengan keji menggoresku.
Waktu aku duduk di bangku kelas V SD, ibuku menikah lagi dengan seorang pria yang sekarang menjadi ayah tiriku dan dari pernikahan itulah aku memiliki 3 orang saudari perempuan (adik tiri).
Saat itulah aku merasakan kehancuran yang begitu luar biasa. Ayah tiriku sangat membenciku, tak jarang aku diperlakukan kasar saat ibuku tidak ada di Rumah.
Waktu ibuku pergi ke Rumah nenek di kampung halamanku, aku hanya tinggal berdua dengan ayah tiriku.












