“Program OSOP, OCOP, dan OVOP menunjukkan upaya serius pemerintah dalam mendorong masyarakat mengembangkan potensi lokal,” katanya.

Ia menyoroti pentingnya hilirisasi produk.
“Selama ini kita menjual banyak komoditas dalam bentuk mentah. Kalau kita jual pisang atau kelapa mentah, nilainya rendah,” jelasnya.
Menurutnya, pengolahan menjadi kunci peningkatan nilai ekonomi.
“Kalau diolah menjadi keripik atau VCO, nilainya jauh lebih tinggi,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya pemasaran digital.
“Kami dorong agar produk-produk ini tidak hanya dijual di NTT Mart, tetapi juga dipasarkan melalui Tokopedia, Shopee, dan platform digital lainnya,” tegasnya
Akademisi: Jangan Meniru, Tapi Berbeda
Sementara itu, akademisi dari STIE Oemathonis Kupang, Yohanes Made Supadi, mengingatkan agar NTT Mart tidak kehilangan jati diri.
“Kalau kita meniru Alfamart atau Indomaret, kita akan kalah. Mereka sudah kuat dari sisi modal dan jaringan,” ujarnya.
Menurutnya, kekuatan NTT justru terletak pada identitas lokal.
“Retail modern tidak punya kekuatan pada produk komunitas dan identitas lokal. Di situlah peluang NTT Mart,” jelasnya.












