Dunia Hukum Bertemu Dunia Air Mata – “Molo si Ine, Tau si Ame Bupati”
Penulis | Agung Hermanus Riwu – Warga Diaspora Ende di Kupang
KUPANG | BuletinNTT.com – Di Jalan Irian Jaya, Ende, tangis seorang mama pecah di antara debu, kayu, dan dinding yang perlahan kehilangan arti sebagai “rumah”. Tangis itu bukan sekadar tentang papan dan seng. Itu adalah tangis tentang kenangan, tentang usia yang menua bersama halaman sempit, tentang rasa takut memulai hidup dari nol.
Dan di sisi lain, pemerintah berdiri membawa aturan. Membawa sertifikat, data aset, garis batas, dan kewajiban menertibkan milik daerah.
Dua dunia bertemu di sana, dunia hukum dan dunia air mata. Karena itu, mungkin kita perlu berkata pelan kepada kedua pihak. _”Molo si Ine. Tau si Ame Bupati.”_ Sudahlah Mama. Lanjutkan Bapak Bupati.
Untuk Ine yang menangis, mungkin kalimat ini terdengar kejam. Tetapi hidup kadang memang memaksa manusia menerima kenyataan yang pahit.
Bila benar tanah itu bukan milikmu, maka relakanlah perlahan. Tidak semua kehilangan bisa dilawan dengan teriakan. Ada saat di mana manusia hanya bisa berserah dan meminta kekuatan dari Tuhan.
Filsuf Stoik, Epictetus pernah berkata, “Jangan meminta hidup berjalan sesuai keinginanmu, tetapi berharaplah agar semuanya terjadi sebagaimana adanya.” Sebab kedamaian sering lahir bukan ketika manusia menang, tetapi ketika ia mampu menerima.










