Anak-anak yang hidup di lingkungan yang mendukung aktivitas literasi—seperti adanya taman baca, kegiatan mendongeng, pojok baca di rumah ibadah, atau komunitas literasi—akan lebih mudah mengembangkan kebiasaan membaca.
Sebaliknya, lingkungan yang miskin rangsangan literasi akan membuat anak sulit melihat membaca sebagai sesuatu yang menarik dan bermakna.
Penulis mengajak, di sinilah peran pegiat literasi menjadi sangat vital. Kehadiran mereka sebagai relawan, volunteer pendamping baca, dan penggerak komunitas membantu menjembatani keterbatasan yang ada di masyarakat.
Peran strategis Perpustakaan dan Kearsipan Daerah kabupaten Manggarai Timur, melalui jejaring kolaborasi dengan para pegiat literasi, memperluas jangkauan layanan hingga ke pelosok-pelosok desa.
Kegiatan Membaca Nyaring yang dilakukan di Taman Baca Masyarakat, ruang terbuka, balai desa, atau halaman rumah warga menjadi bukti bahwa literasi tidak harus selalu berlangsung di ruang formal.
Sekolah sebagai Penguat dan Pengarah
Sekolah tetap memiliki peran sentral dalam menumbuhkan dan mengarahkan budaya membaca. Guru bukan hanya pengajar mata pelajaran, tetapi juga terdiferensiasi sebagai teladan dalam berliterasi.
Ketika guru gemar membaca, menceritakan buku yang dibaca, serta mempraktikkan Membaca Nyaring di kelas, siswa akan menangkap pesan bahwa membaca adalah kegiatan yang penting dan menyenangkan.












