Kegiatan BimTek Membaca Nyaring di bagi menjadi tiga kategori. Pertama kategori Guru yang diikuti 50 peserta. Guru dilatih untuk memahami apa itu membaca nyaring, manfaat membaca nyaring, membaca nyaring di kelas untuk pembelajaran hingga praktik pemodelan membaca nyaring.
Kedua, kategori pemustaka dan pegiait lerasi. Mereka diajak aktif terlibat, menjadikan perpustakaan sebagai pelibatan masyarakat, memberikan akses layanan Buku Bacaan Bermutu bantuan Perpusnas 2024, serta harapan bagi pegiat literasi berperan sebagai penggerak di komunitas masing-masing.
Ketiga, kategori orangtua. Orangtua adalah guru pertama anak sejak usia anak 0-2 tahun, 3-4 tahun dan 6-9 tahun. Artinya aktivitas Membaca Nyaring sedianya wajib dilakukan sejak dini. Orangtua-lah yang menjadi role model atau teladan Membaca Nyaring bagi anak.
Maka, dengan demikian, hemat saya Membaca Nyaring tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, melainkan menjadi kebiasaan yang tumbuh di berbagai ruang kehidupan untuk menjadikan manusia sebegai pembelajar sepanjang hayat.
Perpustakaan sebagai Pusat Gerakan Literasi Masyarakat
Di Kabupaten Manggarai Timur, dalam pengamatan dan refleksi penulis selama ini, Perpustakaan dan Kearsipan Daerah sering dipersepsikan hanya sebagai tempat menyimpan buku, atau transaksi peminjaman buku fiksi atau nonfiksi.












