Opini | Empat Kilometer yang Terlupakan: Ketika Jalan Rusak Menguji Kesabaran Masyarakat Jopu – Wolowaru, Kabupaten Ende
Oleh: Paulus Nefftalis Ngga’a, S.Pd., M.Or
“Warga Diaspora Ende di Kupang”
ENDE | BuletinNTT.com – Ada perjalanan yang meninggalkan kenangan indah. Ada pula perjalanan yang menyisakan kegelisahan.
Perjalanan saya saat liburan melintasi ruas jalan Provinsi Wolowaru–Jopu di Kabupaten Ende, termasuk yang kedua, meninggalkan kegelisahan.
Niat pulang kampung untuk menikmati sejuknya udara pegunungan dan hangatnya kebersamaan dengan keluarga mendadak berubah menjadi renungan panjang.
Bukan karena alamnya kehilangan pesona. Bukan pula karena masyarakatnya kehilangan keramahan. Yang mengusik justru sesuatu yang semestinya menjadi urat nadi kehidupan: jalan.
Sekitar empat kilometer ruas jalan itu seakan sedang meminta pertolongan. Aspalnya terkelupas, lubang-lubang menganga tanpa belas kasihan, sementara debu dan batu berserakan menjadi teman setia setiap kendaraan yang melintas.
Ketika hujan datang, lubang-lubang itu berubah menjadi jebakan yang menyamarkan bahaya.
Saya mencoba menghitung jumlah lubang di sepanjang perjalanan. Namun sebelum hitungan selesai, saya menyadari bahwa yang lebih banyak bukanlah lubangnya, melainkan harapan masyarakat yang belum juga menemukan jawaban.










