Seseorang dikatakan bisa membaca, biasa membaca, membaca memahami isi teks itu berkat kerja keras dalam mendisiplinkan diri untuk terus melatih keterampilan membaca.
Keterampilan membaca sejatinya tidak dibentuk pertama kali di sekolah, melainkan di rumah. sejak anak berusia 0-2 tahun dan seterusnya.
Rumah adalah sekolah pertama, dan orang tua adalah guru pertama bagi anak. Sayangnya bila di Manggarai Timur masih banyak keluarga yang belum menjadikan hidup membaca sebagai kebiasaan harian.
Buku sering dianggap sebagai pelengkap, tidak penting dan bukan kebutuhan primer. Televisi dan gawai lebih dominan mengisi waktu anak dibandingkan buku.
Melalui kegiatan Membaca Nyaring yang melibatkan guru, pemustaka, pegiat literasi, orangtua, Perpustakaan dan Kearsipan Daerah kabupaten Manggarai Timur secara tidak langsung mengirimkan singal kuat bahwa literasi adalah “tanggung jawab bersama”, bukan hanya tugas guru di sekolah.
Kegiatan sederhana orangtua biasakan dengan mulai membacakan buku cerita anak sebelum tidur, menemani anak membaca di sore hari, menyisihkan waktu 20-30 menit Membaca Nyaring, saat itulah benih-benih kecintaan terhadap membaca buku ditanamkan.
Lebih jauh, anak-anak yang mendapatkan layanan Membaca Nyaring t di rumah biasanya akrab dengan buku serta cenderung memiliki hubungan emosional yang positif, critical thinking, kognitif dan karakter yang baik.
Lingkungan Masyarakat sebagai Ruang Tumbuhnya Literasi
Selain rumah, lingkungan masyarakat memegang peran penting dalam menguatkan budaya membaca.












