Alfred mengacu pada pemikiran ekonom John Maynard Keynes yang menempatkan kebijakan fiskal sebagai instrumen penting untuk menjaga stabilitas dan mendorong aktivitas ekonomi.
Kedua, rendahnya produktivitas. Keterbatasan teknologi, keterampilan tenaga kerja, dan efisiensi usaha dapat meningkatkan biaya produksi serta menurunkan daya saing produk lokal.
Peningkatan produktivitas membutuhkan pelatihan tenaga kerja, pemanfaatan teknologi, akses pembiayaan, dan pendampingan bagi pelaku usaha.
Ketiga, birokrasi yang tidak efisien. Prosedur berbelit-belit, tumpang tindih regulasi, pungutan liar, dan korupsi berpotensi menghambat pelayanan publik serta memperburuk iklim investasi.
Alfred merujuk pemikiran Daron Acemoglu dalam buku “Why Nations Fail” mengenai pentingnya kualitas institusi bagi kemajuan suatu negara.
Menurutnya, reformasi kelembagaan perlu menjadi prioritas agar pelayanan publik lebih transparan, efisien, dan mendukung kegiatan ekonomi.
Keempat, buruknya infrastruktur dan konektivitas. Jalan yang rusak, pasokan listrik tidak stabil, serta keterbatasan akses internet dapat meningkatkan biaya distribusi dan menghambat aktivitas usaha.
Infrastruktur yang memadai diperlukan untuk menghubungkan sentra produksi dengan pasar, memperlancar distribusi barang, dan membuka akses ekonomi bagi masyarakat.












