Menurutnya, perempuan tidak cukup hanya diajak untuk membaca dan menulis. Literasi harus diterjemahkan menjadi kemampuan nyata dalam menghadapi persoalan kehidupan.
Perempuan harus mampu memahami informasi kesehatan, mengenali bentuk-bentuk kekerasan, menggunakan teknologi secara bertanggung jawab, mengelola keuangan keluarga maupun usaha, memahami budaya, serta berani menuangkan gagasan melalui tulisan.
“Karena itu, Perempuan Merdeka Berliterasi kami dorong menjadi gerakan bersama, bukan sekadar agenda peringatan kemerdekaan,” ujarnya.
Kemerdekaan Perempuan Dimulai dari Rasa Aman
Rangkaian Perempuan Merdeka 2026 dirancang dengan lima agenda utama yang menghubungkan isu perlindungan, kesehatan, karya, budaya dan literasi.
Agenda pertama, Perempuan Merdeka dari Kekerasan, diarahkan pada edukasi pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak, pemahaman tentang PSEA, anti-bullying, mekanisme perlindungan dan rujukan, serta berbagi praktik baik untuk membangun lingkungan sekolah yang aman.
Pesannya jelas: perempuan dan anak tidak boleh hidup dalam ketakutan.
Literasi dalam konteks ini menjadi alat untuk mengenali kekerasan sejak dini, memahami hak, mengetahui ke mana harus mencari pertolongan dan berani berbicara ketika menghadapi ancaman.












