
Cara penggunaannya cukup sederhana, yakni dengan memasukkan sensor ke dalam sampel sambal, kemudian hasil pengukuran akan langsung muncul pada layar LCD.
Ke depan, alat ini juga dirancang untuk dapat dikembangkan agar terhubung dengan perangkat mobile.
Kedua inovasi ini merupakan hasil dari tugas mata kuliah mikrokontroler, di mana mahasiswa diminta untuk mengangkat permasalahan nyata di lingkungan sekitar dan mengubahnya menjadi solusi berbasis teknologi.
Meski masih dalam tahap pengembangan dan uji coba, kedua alat tersebut dinilai memiliki potensi besar untuk diterapkan, khususnya bagi petani kopi dan pelaku UMKM di sektor kuliner.
Karya-karya tersebut dipamerkan dalam Rapat Kerja Pimpinan Perguruan Tinggi se-Nusa Tenggara Timur (NTT) di Hotel Harper Kupang, yang mengusung tema “Membangun Sinergitas Pendidikan Tinggi, Pemerintah Daerah dan Industri dalam rangka Akselerasi Pembangunan di NTT.”
Pameran ini menjadi wadah bagi mahasiswa untuk menunjukkan hasil karya inovatif sekaligus memperkuat kolaborasi antara dunia pendidikan, pemerintah daerah, dan sektor industri.












