Bagi saya, tempat bukan inti persoalannya. Bank boleh melakukan sosialisasi kepada masyarakat di mana saja sepanjang sesuai dengan ketentuan. Partai politik juga merupakan bagian dari kehidupan masyarakat.
Yang menjadi perhatian saya adalah ketika kegiatan tersebut tidak berhenti pada penggunaan tempat, tetapi diikuti dengan keterlibatan jaringan kantor bank, pegawai, peserta, calon debitur, perangkat kegiatan, konsumsi, anggaran, sampai dengan pipeline KUR.
Di titik itu, persoalannya berubah. Ini bukan lagi sekadar pertanyaan: “Bolehkah kantor partai digunakan sebagai tempat sosialisasi KUR?”
Pertanyaan saya jauh lebih mendasar: “Sejauh mana Bank NTT boleh masuk ke ruang politik tanpa kehilangan jarak institusionalnya?”
Saya kira ini pertanyaan yang sehat. Sebab Bank NTT bukan perangkat partai politik. Bank NTT adalah bank daerah. Bank NTT membawa nama daerah.
Bank NTT mengelola kepercayaan masyarakat. Dan karena itu, Bank NTT harus berdiri di atas semua kepentingan politik. Bank NTT Bukan Milik Golkar, PKB, PDIP atau NasDem, Saya ingin mengatakan ini secara terang.
Bank NTT bukan bank milik Golkar. Bank NTT bukan bank milik PKB. Bank NTT bukan bank milik PDIP. Bank NTT bukan bank milik NasDem.










