Saya ingin seorang pedagang kecil bisa datang ke bank karena usahanya layak.Saya ingin petani, nelayan, pelaku usaha mikro, pedagang pasar dan pelaku UMKM lainnya mendapatkan kesempatan yang sama.
Bukan karena warna politiknya. Bukan karena siapa yang membawanya. Bukan karena di mana ia menghadiri sosialisasi.
Tetapi karena usaha dan kelayakannya memenuhi persyaratan.
Karena itu saya katakan: “KUR harus membuka pintu ekonomi, bukan membuka kartu politik.”
Pertanyaan Terakhir Saya
Pada akhirnya, bagi saya, persoalan ini bukan sekadar tentang sebuah gedung. Bukan sekadar tentang nasi kotak. Bukan sekadar tentang pagu Rp2 juta atau Rp2,5 juta. Bukan pula sekadar tentang lima calon debitur.
Ini tentang arah dan marwah sebuah bank daerah.Saya ingin Bank NTT tetap menjadi bank milik seluruh rakyat Nusa Tenggara Timur.
Saya ingin Bank NTT bisa bekerja sama dengan siapa pun tanpa kehilangan independensinya.
Saya ingin Bank NTT dapat mendekati masyarakat tanpa membuat masyarakat merasa harus mendekati partai. Dan saya ingin KUR benar-benar menjadi instrumen pemberdayaan ekonomi rakyat.
Maka pertanyaan saya sederhana: “KUR ini sedang dibawa lebih dekat kepada rakyat, atau rakyat sedang diarahkan lebih dekat kepada partai?”










