
Jenazah Romo Yalo dimakamkan di kompleks Universitas Katolik Widya Mandira Kupang, Penfui, Kota Kupang, Makam Imam Projo.
Kenangan yang Akan Terus Hidup
Bagi Dus Bria, Romo Yalo telah melakukan banyak hal dengan cinta yang besar. Ia tidak hanya hadir sebagai pemimpin rohani, tetapi juga sebagai sosok yang menumbuhkan semangat dalam kehidupan bersama.
Kini, kebersamaan itu hanya tinggal kenangan. Namun, bagi Dus, pesan dan cita-cita Romo Yalo akan tetap menjadi bagian dari perjalanan THS-THM.
Peringatan HUT THS pada 10 November 2026 mendatang pun akan memiliki arti yang berbeda. Ada sosok yang biasanya mendampingi dan memberikan semangat, tetapi kali ini tidak lagi hadir secara fisik.
Meski demikian, Dus berharap semangat yang pernah ditanamkan Romo Yalo tetap hidup dalam diri setiap anggota.
Ia ingin rencana yang pernah mereka bicarakan tidak berhenti sebagai cerita masa lalu, melainkan menjadi dorongan untuk meneruskan karya dan pembinaan organisasi.
Dengan hati yang berduka, Dus menyampaikan salam perpisahan kepada pastor moderator sekaligus senior yang telah memberikan banyak arti bagi dirinya dan keluarga besar THS-THM.
“Selamat jalan, Romo Yalo. Pastor moderator, senior, dan panutan kami. Pada 10 November nanti, kami kehilangan panutan secara raga, tetapi kami yakin jiwanya tetap ada bersama kami,” ungkap Dus.
Bagi Dus, Romo Yalo memang telah pergi untuk selamanya. Namun, kasih, teladan, dan pesan tentang Oepoli akan tetap hidup dalam ingatan mereka yang pernah berjalan bersamanya.










