2. Tidak Ada Kajian Ilmiah atau Studi Kelayakan yang Dipaparkan
Fraksi juga menyoroti bahwa tidak ada dokumen kajian ilmiah, studi kelayakan bisnis, ataupun proyeksi dampak ekonomi yang dibuka kepada publik maupun DPRD. Fraksi menilai, tanpa dasar akademis dan analisis ekonomi yang kuat, proyek tersebut berpotensi merugikan daerah dalam jangka panjang.
“Kami tidak bisa menyetujui utang sebesar itu hanya berdasarkan asumsi. Rakyat akan menanggung beban ini bertahun-tahun. Kami minta ada kajian ilmiah yang terbuka dan bisa diuji,” tegasnya.
3. Risiko Tinggi: Hotel Bisa Mangkrak atau Tidak Menguntungkan
Salu juga mengkritisi perencanaan yang dianggap setengah matang. Menurutnya, belum ada strategi yang konkret untuk meningkatkan daya tarik wisata daerah, padahal sektor itulah yang akan menopang keberlangsungan hotel.
“Kalau hotel sudah dibangun tapi tidak ada tamu, siapa yang akan menanggung rugi? Ujung-ujungnya APBD yang tersedot untuk subsidi, rakyat yang menanggung,” ujarnya.
4. Infrastruktur Dasar Lebih Mendesak untuk Dibiayai
Fraksi Indonesia Maju menyarankan agar jika pemerintah ingin mengajukan pinjaman, fokusnya harus pada perbaikan infrastruktur dasar, seperti pembangunan dan perbaikan jalan di desa-desa, jembatan penghubung antarkecamatan, serta sistem air bersih.
“Pemerintah seharusnya ajukan pinjaman untuk memperbaiki kondisi jalan yang parah. Itu berdampak langsung terhadap ekonomi masyarakat—transportasi hasil tani, akses pendidikan, dan kesehatan,” tegas Robert Salu.












