Menurutnya, penyediaan air bersih menjadi salah satu kebutuhan utama masyarakat di lokasi pengungsian.
Pihaknya menyediakan menara air dan mendistribusikan air untuk memenuhi kebutuhan para pengungsi.
Selain itu, dibangun pula toilet semi permanen dengan beberapa fasilitas pendukung.
Fasilitas tersebut mencakup toilet, toilet khusus penyandang disabilitas, tempat mencuci, dan fasilitas cuci tangan bagi anak-anak.
Feliks mengatakan, pendampingan terkait air, sanitasi, dan kebersihan telah dilakukan sejak 2023 di sejumlah wilayah NTT.
Wilayah tersebut mencakup Sumba Timur, Sumba Barat, Timor Tengah Selatan, Flores Timur, Manggarai Barat, dan Kabupaten Kupang.
Dorong Inovasi Hemat Air
Selain akses air bersih, Feliks menyoroti inovasi sederhana untuk menghadapi keterbatasan air.
Salah satunya melalui pemanfaatan botol plastik bekas sebagai irigasi tetes untuk menyiram tanaman.
Menurut Feliks, inovasi tersebut telah diperkenalkan kepada sekolah-sekolah sebagai bagian dari edukasi lingkungan.
Ia menilai masyarakat perlu mengembangkan solusi sederhana yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Kalau kita melihat botol bekas atau gelas bekas, kita harus berpikir di mana membuangnya,” katanya.












