Menurutnya, NTT masih membutuhkan lebih banyak teknologi tepat guna untuk membantu masyarakat menyelesaikan persoalan lingkungan.
Teknologi tersebut antara lain dapat digunakan untuk mengelola sampah dan memproduksi kompos.
“Yang paling penting bagi saya adalah bagaimana kita memperkenalkan teknologi tepat guna yang sudah dihasilkan melalui kegiatan penelitian di kampus-kampus,” katanya.
Ia menyebut penelitian tersebut dapat berasal dari dosen maupun mahasiswa.
Menurut Karolus, berbagai praktik baik juga telah dilakukan oleh sejumlah mitra di tengah masyarakat.
Ia mencontohkan Forum Kupang Green and Clean Kota Kupang dan Yayasan Kemanusiaan Madani Indonesia.
Keduanya dinilai telah memiliki pengalaman dalam mendorong masyarakat menerapkan praktik kesehatan lingkungan dan sanitasi.
Karolus menilai hasil penelitian dan praktik baik tersebut perlu diperkenalkan secara lebih luas kepada masyarakat.
“Bagaimana kita menyiapkan teknologi tepat guna, kemudian kita mengedukasi masyarakat menggunakan teknologi tepat guna,” ujarnya.
Menurutnya, kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, mitra pembangunan, dan masyarakat dapat memperkuat upaya menjaga kesehatan lingkungan.
Jika dilakukan secara bersama-sama, berbagai persoalan sanitasi dan lingkungan diharapkan dapat diminimalkan dampaknya terhadap kesehatan masyarakat.
Mahasiswa Didorong Menjadi Penggerak
Ketua Jurusan Sanitasi Poltekkes Kemenkes Kupang, Debora Salu, menyampaikan apresiasi kepada seluruh narasumber dan pihak yang mendukung kegiatan tersebut.












