Ia mengatakan, terdapat sekolah yang masih mengandalkan sumber air dari kali dengan jarak cukup jauh.
“Banyak anak membawa ember dan jerigen dari rumah untuk mengambil air dari kali,” ujar Feliks.
Kondisi tersebut dapat memengaruhi aktivitas belajar karena waktu siswa tersita untuk mengambil air.
Karena itu, pihaknya bersama Pemerintah Provinsi NTT, Pemerintah Kabupaten Kupang, dan Poltekkes Kemenkes Kupang melakukan asesmen awal.
Hasil asesmen kemudian menjadi dasar intervensi untuk mendekatkan akses air ke sekolah-sekolah yang membutuhkan.
Intervensi dilakukan melalui pembangunan penampungan air dan menara air di sejumlah lokasi.
Langkah tersebut diharapkan dapat mengurangi waktu siswa mengambil air sekaligus mendukung lingkungan belajar yang lebih sehat.
Feliks juga menyoroti kebutuhan air bersih bagi siswi ketika mengalami menstruasi di lingkungan sekolah.
“Ketika adik-adik perempuan menstruasi, mereka sangat kesulitan bila air bersih tidak tersedia,” katanya.
Menurut Feliks, akses air bersih tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan dasar.
Persoalan tersebut juga berhubungan dengan kesehatan, pendidikan, dan martabat masyarakat.
Pengalaman Penanganan Bencana
Feliks juga membagikan pengalaman yayasannya dalam menangani persoalan air dan sanitasi saat bencana di Flores Timur.












