Sistem tersebut memungkinkan masyarakat yang menjadi nasabah memantau data tabungan sampah mereka.
Data hasil penimbangan sampah juga dapat terdokumentasi sehingga dapat digunakan sebagai informasi bagi masyarakat maupun pemerintah.
Menurut Yoseph, digitalisasi dapat membantu pengelolaan sampah menjadi lebih terukur dan transparan.
Ia menyebut, sejak sistem tersebut dikembangkan, pengelolaan sampah terpilah terus bertambah.
“Berdasarkan data dari sistem, kami sudah memiliki sekitar 250 nasabah,” katanya.
Menurutnya, jumlah sampah terpilah yang dikelola mencapai sekitar 260,9 kilogram berdasarkan data yang disampaikan dalam kegiatan tersebut.
Karolus Ngambut: Edukasi Harus Dilakukan Terus-Menerus
Akademisi Poltekkes Kemenkes Kupang, Dr. Karolus Ngambut, S.KM., M.Kes., menilai edukasi menjadi salah satu kunci dalam membangun kesadaran masyarakat terhadap kesehatan lingkungan.
Menurut Karolus, edukasi lingkungan tidak dapat dilakukan hanya sekali dan kemudian dihentikan.
“Kalau kita edukasi, edukasi, edukasi terus, itu pasti akan bisa berhasil,” ujarnya.
Karolus mengatakan, selain kebijakan dan partisipasi masyarakat, ketersediaan infrastruktur juga menjadi faktor penting.
Terutama, kata dia, infrastruktur berupa teknologi tepat guna yang mudah digunakan masyarakat.












