Tidak ada alasan politik, ideologi, suku, agama maupun kepentingan apa pun yang dapat membenarkan pembunuhan terhadap manusia yang tidak bersalah.
Tetapi kemarahan tidak boleh membuat kita kehilangan kejernihan. Jangan pernah menyamakan pelaku kekerasan dengan seluruh masyarakat Papua.
Pelaku adalah pelaku. Mereka harus dicari, diidentifikasi, diproses secara hukum dan dihukum apabila terbukti bersalah.
Namun masyarakat Papua tidak boleh menerima stigma hanya karena tindakan individu atau kelompok tertentu.
Sebagian besar masyarakat Papua adalah rakyat biasa yang ingin hidup aman, bekerja, bertani, berdagang, menyekolahkan anak dan membangun masa depan.
Karena itu, melawan kekerasan tidak berarti memusuhi Papua. Justru ketika kekerasan terjadi, negara harus semakin dekat dengan masyarakat Papua.
Informasi Harus Diverifikasi, Bukan Dijadikan Provokasi
Beredarnya video atau rekaman yang disebut berkaitan dengan salah satu korban juga harus disikapi secara hati-hati.
Jika benar dan autentik, rekaman tersebut dapat menjadi petunjuk penting untuk mengungkap motif, pelaku maupun jaringan yang terlibat.
Tetapi negara hukum tidak boleh bekerja berdasarkan asumsi. Keaslian rekaman, waktu pembuatan, identitas orang yang berbicara, perangkat yang digunakan, lokasi serta konteks percakapan harus diverifikasi secara profesional.












