Scroll untuk baca artikel
Opini

Opini | Papua Tidak Membutuhkan Lebih Banyak Kematian, Negara Harus Hadir Sebelum Rakyat Menjadi Korban

Avatar photo
×

Opini | Papua Tidak Membutuhkan Lebih Banyak Kematian, Negara Harus Hadir Sebelum Rakyat Menjadi Korban

Sebarkan artikel ini
Reporter: Karni Lando |  Editor: Redaksi
Dr. Ir. Karolus Karni Lando, MBA | Warga Diaspora NTT di Jakarta

Tidak ada alasan politik, ideologi, suku, agama maupun kepentingan apa pun yang dapat membenarkan pembunuhan terhadap manusia yang tidak bersalah.

Tetapi kemarahan tidak boleh membuat kita kehilangan kejernihan. Jangan pernah menyamakan pelaku kekerasan dengan seluruh masyarakat Papua.

Scroll Untuk Lanjutkan Membaca
Advertising!

Pelaku adalah pelaku. Mereka harus dicari, diidentifikasi, diproses secara hukum dan dihukum apabila terbukti bersalah.

Namun masyarakat Papua tidak boleh menerima stigma hanya karena tindakan individu atau kelompok tertentu.

Sebagian besar masyarakat Papua adalah rakyat biasa yang ingin hidup aman, bekerja, bertani, berdagang, menyekolahkan anak dan membangun masa depan.

Baca Juga :  Suara Perempuan untuk Almarhumah dr. Icha: Ketika Keluarga Masih Menanti Keadilan di Tengah Luka yang Belum Sembuh

Karena itu, melawan kekerasan tidak berarti memusuhi Papua. Justru ketika kekerasan terjadi, negara harus semakin dekat dengan masyarakat Papua.

Informasi Harus Diverifikasi, Bukan Dijadikan Provokasi

Beredarnya video atau rekaman yang disebut berkaitan dengan salah satu korban juga harus disikapi secara hati-hati.

Jika benar dan autentik, rekaman tersebut dapat menjadi petunjuk penting untuk mengungkap motif, pelaku maupun jaringan yang terlibat.

Tetapi negara hukum tidak boleh bekerja berdasarkan asumsi. Keaslian rekaman, waktu pembuatan, identitas orang yang berbicara, perangkat yang digunakan, lokasi serta konteks percakapan harus diverifikasi secara profesional.