Dengan demikian, ritual kurban harus dipahami sebagai simbol penyerahan diri dan upaya manusia mendekatkan diri kepada Tuhan.
Makna ritual ini menjadi penting di tengah kehidupan modern yang sering kali menempatkan agama sebatas formalitas sesaat, kurban menjadi ritual tahunan yang nirmakna.
Ibadah Kurban mengingatkan kiat bahwa ini bukan sekadar aktivitas simbolik, tetapi saranagv pembentukan kesadaran moral dan spiritual manusia, meminjam Bahasa Rumi “kurban merupakan metafora penyerahan total ‘ego’ atau ‘diri yang palsu’ kepada Tuhan.
Nilai Spiritual Kurban
Selain sebagai ritus keagamaan, kurban juga memiliki dimensi spiritual yang mendalam. Ibadah ini mengajarkan manusia tentang keikhlasan, pengendalian diri, dan keberanian melepaskan kemelekatan duniawi.
Ali Syariati melihat kisah Nabi Ibrahim sebagai simbol perjuangan manusia melawan “berhala-berhala” dalam dirinya.
Menurutnya, Ismail tidak hanya dimaknai sebagai sosok anak yang hendak dikorbankan, tetapi juga lambang dari segala sesuatu yang paling dicintai manusia, secara reflektif kita harus Kembali menanyakan kepada diri sendiri, siapakah Ismail kita hari ini?.
Boleh jadi Ismail yang sedang menguasai kita adalah harta, jabatan, ego, dan ambisi kita. Idul Adha dengan wujud hari raya penyembelihan hewan kurban tidak berhenti disitu, ada pesan profetik pada setiap insan untuk menyembelih ‘ego’, mendekonstruksi ruhaninya menuju manusia sempurna (Insan Kamil).












