
Peristiwa kosmik ini menjadi simbol bahwa yang paling utama di hadapan Tuhan bukanlah darah atau daging kurban, melainkan nilai kepasrahan total seorang hamba pada “Sangkan Paran Dumadi”.
Lewat peristiwa historis ini lahirlah tradisi kurban yang terus diperingati setiap Idul Adha. Kurban tidak boleh hanya dimaknai sebagai ritual penyembelihan hewan semata.
Di dalamnya terdapat pesan yang mendalam, nilai yang penuh makna. Ibadah kurban yang dirayakan umat Islam setiap tahunnya ini mencakup dimensi ritus keagamaan, spiritualitas, dan pesan sosial kemanusiaan.
Kurban sebagai Ritus Keagamaan
Sebagai ritus keagamaan, kurban merupakan bentuk ibadah yang memiliki tata cara tertentu dalam syariat Islam. Ritual ini menjadi simbol kepatuhan manusia kepada Tuhan sekaligus bentuk penghormatan terhadap tradisi kenabian yang diwariskan sejak masa Nabi Ibrahim.
M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa hakikat kurban bukan terletak pada penyembelihan hewan itu sendiri, melainkan pada nilai ketakwaan yang menyertainya.
Ia merujuk pada Surat Al-Hajj ayat 37 yang menegaskan bahwa darah dan daging kurban tidak akan sampai kepada Allah, tetapi ketakwaan manusialah yang menjadi inti ibadah tersebut.












