BMKG menjelaskan bahwa gempa tersebut berkaitan dengan aktivitas Sesar Naik Flores atau “Flores Back-Arc Thrust“.
Fakta tersebut menegaskan bahwa ancaman kegempaan harus menjadi pertimbangan utama dalam menentukan kelayakan pembangunan, termasuk pengembangan energi panas bumi.
Saya tidak menyatakan bahwa proyek panas bumi menyebabkan gempa Flores. Hubungan sebab-akibat tersebut tidak boleh disimpulkan tanpa bukti ilmiah yang memadai.
Namun, belum adanya bukti keterkaitan bukan berarti setiap proyek otomatis aman. Keselamatan harus dibuktikan melalui penelitian, pemantauan, dan pengawasan yang dapat diuji secara independen.
Penelitian ilmiah menunjukkan bahwa pengambilan dan penyuntikan fluida dalam kegiatan panas bumi, pada kondisi tertentu, dapat mengubah tekanan batuan dan memicu kegempaan terinduksi.
Risiko tersebut tidak dapat diabaikan hanya karena panas bumi dikategorikan sebagai sumber energi rendah emisi. Setiap lokasi membutuhkan penilaian risiko sesuai karakteristik geologi dan metode operasinya.
Pemerintah dan pengembang perlu membuka data geologi, riwayat kegempaan, serta parameter pengambilan dan penyuntikan fluida untuk diperiksa secara independen.
Pengawasan juga harus menetapkan ambang penghentian operasi yang jelas apabila hasil pemantauan menunjukkan peningkatan risiko terhadap masyarakat dan lingkungan.










