Scroll untuk baca artikel
Opini

Opini : Di Balik Jas Putih Dokter Icha: Sebuah Refleksi tentang Pengorbanan, Kemanusiaan, dan Perlindungan bagi Tenaga Kesehatan

Avatar photo
×

Opini : Di Balik Jas Putih Dokter Icha: Sebuah Refleksi tentang Pengorbanan, Kemanusiaan, dan Perlindungan bagi Tenaga Kesehatan

Sebarkan artikel ini
Reporter: Ben |  Editor: Redaksi
Dr. Ir. Karolus Karni Lando, MBA - Warga Diaspora NTT di Jakarta

Ada biaya kuliah, tempat tinggal, buku, alat kesehatan, perangkat teknologi, hingga kebutuhan sehari-hari yang harus dipenuhi.

Pendidikan kedokteran bukan hanya menguji kemampuan seorang mahasiswa.

Scroll Untuk Lanjutkan Membaca
Advertising!

Pendidikan kedokteran juga menguji kekuatan keluarga yang mendukungnya.

Karena itu, ketika seseorang akhirnya menjadi dokter, sesungguhnya yang berdiri bukan hanya satu individu.

Ada perjalanan panjang sebuah keluarga di belakangnya.

Setelah Lulus, Perjuangan Belum Berakhir

Banyak orang mengira bahwa setelah seorang mahasiswa menyelesaikan pendidikan kedokteran, perjuangan telah selesai.

Baca Juga :  Fransisco Bessi Tegaskan Pengurus Versi Sason Helan Tak Berwenang Cairkan Dana Swasti Sari

Padahal, perjalanan masih panjang.

Mereka harus menjalani pendidikan profesi dokter atau koas.

Pada tahap ini, mereka mulai berhadapan langsung dengan pasien.

Mereka belajar mengambil keputusan medis.

Mereka belajar berkomunikasi dengan pasien dan keluarga pasien.

Mereka belajar bekerja bersama dokter senior, perawat, dan tenaga kesehatan lainnya.

Mereka harus menjalani jadwal yang padat, termasuk mengikuti pelayanan sejak dini hari, menjalani jaga malam, menyusun laporan kasus, dan menghadapi ujian kompetensi.

Setelah itu, mereka masih harus mengikuti program internsip untuk memperkuat kemampuan pelayanan sebelum menjalankan profesi secara mandiri.