Scroll untuk baca artikel
Opini

Opini : Di Balik Jas Putih Dokter Icha: Sebuah Refleksi tentang Pengorbanan, Kemanusiaan, dan Perlindungan bagi Tenaga Kesehatan

Avatar photo
×

Opini : Di Balik Jas Putih Dokter Icha: Sebuah Refleksi tentang Pengorbanan, Kemanusiaan, dan Perlindungan bagi Tenaga Kesehatan

Sebarkan artikel ini
Reporter: Ben |  Editor: Redaksi
Dr. Ir. Karolus Karni Lando, MBA - Warga Diaspora NTT di Jakarta

Ketika masyarakat melihat seorang dokter berada di rumah sakit, yang terlihat biasanya hanyalah hasil akhirnya: seorang profesional yang memiliki pengetahuan untuk membantu menyembuhkan orang sakit.

Namun, tidak banyak yang melihat perjalanan panjang sebelum seseorang sampai pada titik tersebut.

Scroll Untuk Lanjutkan Membaca
Advertising!

Di balik seorang dokter, ada malam-malam panjang yang dihabiskan untuk belajar.

Ada masa muda yang banyak dikorbankan.

Ada keluarga yang menahan keinginan pribadi demi mendukung pendidikan anaknya.

Ada doa orang tua yang tidak pernah berhenti.

Baca Juga :  Fabi Banase, 3 Tersangka Anggota DPRD TTU Layak Jalani Hukum di Nusakambangan

Ada perjuangan yang tidak selalu terlihat oleh mata masyarakat.

Jas Putih Tidak Datang dengan Mudah

Untuk menjadi seorang dokter, seseorang harus melewati proses yang panjang bahkan sejak sebelum memasuki Fakultas Kedokteran.

Mereka harus bersaing dengan ribuan calon mahasiswa yang juga memiliki cita-cita yang sama. Kemampuan akademik, kedisiplinan, dan ketekunan menjadi modal utama untuk bisa diterima.

Namun, diterima di Fakultas Kedokteran bukanlah sebuah akhir perjuangan.

Justru, di sanalah perjalanan yang sesungguhnya dimulai.

Mahasiswa kedokteran harus mempelajari ilmu yang sangat luas dan kompleks. Mereka harus memahami bagaimana tubuh manusia bekerja, bagaimana penyakit muncul, bagaimana obat bekerja, serta bagaimana mengambil keputusan yang berkaitan langsung dengan keselamatan seseorang.