Scroll untuk baca artikel
Opini

Opini : Di Balik Jas Putih Dokter Icha: Sebuah Refleksi tentang Pengorbanan, Kemanusiaan, dan Perlindungan bagi Tenaga Kesehatan

Avatar photo
×

Opini : Di Balik Jas Putih Dokter Icha: Sebuah Refleksi tentang Pengorbanan, Kemanusiaan, dan Perlindungan bagi Tenaga Kesehatan

Sebarkan artikel ini
Reporter: Ben |  Editor: Redaksi
Dr. Ir. Karolus Karni Lando, MBA - Warga Diaspora NTT di Jakarta
Dr. Ir. Karolus Karni Lando, MBA – Warga Diaspora NTT di Jakarta

Semua proses tersebut membentuk seorang dokter bukan hanya menjadi orang yang pintar secara ilmu, tetapi juga menjadi pribadi yang memiliki empati, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap sesama.

Dokter Juga Manusia

Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat sering menempatkan dokter sebagai sosok yang harus selalu kuat.

Scroll Untuk Lanjutkan Membaca
Advertising!

Dokter dianggap harus selalu tahu jawabannya.

Dokter dianggap harus selalu siap.

Dokter dianggap tidak boleh lelah.

Padahal, dokter juga manusia.

Mereka bisa merasa takut.

Mereka bisa mengalami tekanan.

Baca Juga :  Diduga Dipukul Pakai Selang Berisi Pasir, Siswa SMK Pelayaran di Kupang Alami Memar

Mereka bisa merasa sedih.

Mereka juga membutuhkan dukungan dan penghormatan.

Profesionalisme seorang dokter tidak boleh diartikan bahwa mereka kehilangan sisi kemanusiaannya.

Justru karena mereka manusia, maka lingkungan kerja yang sehat, aman, dan penuh penghargaan menjadi sesuatu yang sangat penting.

Tenaga kesehatan yang bekerja dalam kondisi psikologis yang baik akan mampu memberikan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat.

Belajar dari Kepergian Dokter Icha

Saya tidak mengenal dr. Icha Pakaenoni secara pribadi. Namun, kabar kepergiannya membawa kesedihan yang mendalam.