Scroll untuk baca artikel
Opini

Opini : Di Balik Jas Putih Dokter Icha: Sebuah Refleksi tentang Pengorbanan, Kemanusiaan, dan Perlindungan bagi Tenaga Kesehatan

Avatar photo
×

Opini : Di Balik Jas Putih Dokter Icha: Sebuah Refleksi tentang Pengorbanan, Kemanusiaan, dan Perlindungan bagi Tenaga Kesehatan

Sebarkan artikel ini
Reporter: Ben |  Editor: Redaksi
Dr. Ir. Karolus Karni Lando, MBA - Warga Diaspora NTT di Jakarta

Terlebih, muncul informasi mengenai dugaan tekanan atau intimidasi yang dialami sebelum meninggal dunia.

Tentu semua informasi tersebut harus dilihat secara objektif dan diproses sesuai mekanisme hukum yang berlaku.

Scroll Untuk Lanjutkan Membaca
Advertising!

Jika benar terdapat tindakan yang melampaui batas, maka hal tersebut tidak boleh dibiarkan.

Sebab, tidak boleh ada seorang pun yang menggunakan kekuasaan, jabatan, atau posisi tertentu untuk memberikan tekanan yang merendahkan martabat manusia lain.

Namun, di sisi lain, kita juga harus membangun budaya penyelesaian masalah yang mengedepankan komunikasi, etika, dan penghormatan.

Baca Juga :  Baru Sehari Normal, KCU Swasti Sari Kembali Ricuh, Anggota Desak Imelda Anin Berkantor Lagi

Kritik terhadap pelayanan kesehatan adalah bagian dari demokrasi.

Pengawasan terhadap tenaga kesehatan juga diperlukan.

Tetapi semua itu harus dilakukan dengan cara yang bermartabat.

Melindungi Dokter Berarti Menjaga Masa Depan Kesehatan

Peristiwa yang menimpa Dokter Icha harus menjadi refleksi bagi seluruh pihak.

Pemerintah perlu memastikan tenaga kesehatan mendapatkan perlindungan dalam menjalankan tugas.

Rumah sakit harus menjadi tempat kerja yang aman secara fisik maupun psikologis.

Institusi pendidikan harus membangun lingkungan belajar yang sehat.

Masyarakat harus memahami bahwa dokter bukan sekadar pelayan kesehatan, tetapi manusia yang juga memiliki hak untuk dihormati.