Mengapa Indonesia begitu mudah merasa bahwa satu-satunya cara menjadi modern adalah dengan meniru sepenuhnya?
Akuntansi berbasis Pancasila bukan berarti keluar dari sistem global. Ia berarti masuk ke dalamnya dengan identitas yang jelas.
Kita tetap dapat menggunakan standar internasional sebagai referensi teknis, tetapi kerangka konseptual dan orientasi nilainya harus disesuaikan dengan tujuan nasional: kemakmuran rakyat.
Ini bukan pekerjaan sehari. Ia membutuhkan keberanian intelektual dari akademisi, keterbukaan regulator, dan kesadaran moral dari praktisi.
Perguruan tinggi harus berhenti mengajarkan akuntansi seolah-olah ia steril dari ideologi. Regulator perlu membuka ruang inovasi standar yang kontekstual. Organisasi profesi harus berani berdialog, bukan sekadar mengadopsi.
Pada akhirnya, pilihan ini sederhana tetapi fundamental. Apakah akuntansi di Indonesia akan terus menjadi alat untuk memastikan modal tumbuh seefisien mungkin? Ataukah ia akan menjadi instrumen untuk memastikan kesejahteraan didistribusikan seadil mungkin?
Akuntansi memang berbicara dalam angka. Tetapi di balik angka selalu ada nilai. Dan nilai itu menentukan arah bangsa.
Jika kita sungguh percaya pada Pancasila, maka pertarungan terbesar bukan hanya di ruang politik, tetapi juga di ruang laporan keuangan.












