Laporan keuangan disusun agar investor bisa menilai risiko dan return. Bahasa yang dipakai adalah bahasa kapital: laba, arus kas, nilai wajar, return on equity.
Tidak ada yang salah dengan laba. Tetapi ketika laba menjadi pusat moralitas ekonomi, kita sedang menyempitkan makna keberhasilan.
Perusahaan dianggap sukses ketika profit naik, meski ketimpangan melebar. Entitas dipuji ketika nilai saham melonjak, meski pekerja tertekan dan lingkungan rusak.
Dalam logika ini, akuntansi bukan sekadar alat teknis. Ia adalah perangkat legitimasi. Ia memberi justifikasi rasional bagi sistem yang berorientasi pada akumulasi modal.
Kritik seperti yang pernah dilontarkan oleh Karl Marx tentang bagaimana instrumen ekonomi memperkuat dominasi pemilik modal menjadi relevan kembali. Angka-angka terlihat objektif, tetapi struktur di baliknya tidak pernah netral.
Pertanyaannya: apakah ini sejalan dengan jati diri ekonomi Indonesia?
Konstitusi kita, melalui Pasal 33 UUD 1945, menegaskan asas kekeluargaan dan kemakmuran rakyat sebagai tujuan utama.
Falsafah bangsa ini adalah Pancasila, bukan individualisme liberal. Ekonomi Indonesia seharusnya bertumpu pada gotong royong, bukan kompetisi ekstrem. Pada keadilan sosial, bukan supremasi modal.












