Cerpen: Yosef Franklin estrada S.H | “Terjebak Cinta dalam Kebersamaan, Terpendam Rasa dalam Kediaman”
KUPANG | BuletinNTT.com – Namaku Darman. Aku selalu percaya bahwa hidupku berjalan lurus, tenang, terarah, dan tanpa gangguan berarti.
Sebagai mahasiswa Manajemen semester tiga di Universitas Nusa Cendana, aku dikenal rajin dan aktif. Nilai akademikku memuaskan, dan itu cukup membuatku bangga.
Namun, semua berubah sejak hari itu. Hari pertama kuliah offline setelah sekian lama terkurung dalam pembelajaran daring.
Saat aku hendak berangkat ke kampus, ponselku berbunyi.
“Darman, kamu sudah di mana? Aku di depan kampus… tapi takut masuk sendiri.”

Pesan itu dari Tercin. Nama yang sebelumnya hanya sekadar kontak di WhatsApp, kini menjadi nyata di hadapanku.
Aku melihatnya duduk sendiri di lopo. Angin pagi memainkan rambutnya yang terurai rapi.
Wajahnya tenang, namun ada sesuatu yang sulit dijelaskan. Sesuatu yang membuat langkahku melambat.
Dan saat itu, tanpa aba-aba… aku terjatuh.
Bukan secara fisik.
Tapi perasaan.
“Aku Tercin,” katanya sambil tersenyum.
Senyum sederhana itu… cukup untuk mengacaukan dunia yang selama ini kuanggap stabil.











