Sejumlah studi menunjukkan, peningkatan literasi dapat mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 1,3 persen per tahun.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Bunda Literasi Provinsi NTT menginisiasi program literasi yang menyasar sekitar 1,2 juta anak.
Program itu mencakup kampanye literasi publik, pengadaan buku bacaan anak berjenjang dalam skala besar, serta peningkatan kapasitas guru, pendamping belajar, dan pengelola Taman Bacaan Masyarakat (TBM).
Sinergi antara sekolah dan TBM juga diperkuat. Penggunaan bahasa ibu di kelas awal didorong sebagai jembatan menuju Bahasa Indonesia, disertai berbagai kegiatan pendukung, seperti reading camp, guna menumbuhkan kebiasaan membaca anak.
Gelar wicara tersebut juga menghadirkan narasumber dari Kabupaten Nagekeo, yakni Oskarianus Meta (pengelola TBM Pelihara), Maria Sefriana Sebo (Kepala SD Katolik Doki), dan Ermelinda Ude Ugha (guru kelas I SDN Aebowo).
Mereka membagikan praktik baik peningkatan literasi melalui transformasi pembelajaran, strategi transisi bahasa ibu ke Bahasa Indonesia, pemanfaatan buku bacaan bermutu, serta pelibatan komunitas.
Studi Program INOVASI terhadap hampir 5.000 siswa menunjukkan bahwa penyediaan buku bacaan anak yang sesuai, disertai pelatihan guru, mampu meningkatkan skor literasi hingga 25 persen.












