Menurut Asti, strategi tersebut ditempuh sebagai respons atas rendahnya kemampuan literasi dasar siswa di NTT yang masih berada di bawah rata-rata nasional.
Data Standar Pelayanan Minimum menunjukkan masih banyak siswa tingkat SMP dan SMA yang belum lancar membaca serta belum mampu memahami bacaan sederhana.
Situasi itu menjadi perhatian serius Pemerintah Provinsi NTT. Pada akhir 2025 hingga awal 2026, Gubernur NTT menemukan siswa kelas XI dan XII SMA dengan kemampuan membaca setara kelas IV dan V sekolah dasar.
Kondisi tersebut dinilai berpotensi menghambat peningkatan mutu pendidikan dan kualitas sumber daya manusia di daerah itu.
Asti menegaskan, literasi dasar merupakan fondasi utama pembelajaran. Rendahnya kemampuan membaca berdampak luas, tidak hanya pada prestasi akademik, tetapi juga pada peluang kerja, tingkat pendapatan, kesehatan, hingga mobilitas sosial.













