Scroll untuk baca artikel
Opini

Opini : “Kurban dan Pesan Kemanusiaan: Antara Ritus, Spiritual, dan Sosial”

Avatar photo
×

Opini : “Kurban dan Pesan Kemanusiaan: Antara Ritus, Spiritual, dan Sosial”

Sebarkan artikel ini
Reporter: Idharsyah T. Dasi |  Editor: Redaksi
Idharsyah T. Dasi, S.KM., M.K.M | Wasekjend PB HMI Periode 2024-2026
Opini : “Kurban dan Pesan Kemanusiaan: Antara Ritus, Spiritual, dan Sosial”
Oleh: Idharsyah T. Dasi, S.KM., M.K.M (Wasekjend PB HMI Periode 2024-2026)

KUPANG | BuletinNTT.com – Hari raya Idul Adha merupakan salah satu perayaan penting dalam Islam yang sarat dengan nilai spiritual dan kemanusiaan.

Secara etimologi, Idul Adha berasal dari kata ‘id’ yang berarti “perayaan” atau juga bisa berarti ‘kembali’, dan ‘adha’ atau ‘udhiyah’ yang berarti “kurban” atau “hewan sembelihan.”

Scroll Untuk Lanjutkan Membaca
Advertising!

Karena itu, Idul Adha dapat dipahami sebagai hari raya pengorbanan, yaitu momentum keagamaan yang mengajarkan manusia tentang keikhlasan, ketakwaan, dan solidaritas sosial.

Baca Juga :  Wilhelmus Geri Resmi Pimpin Kopdit Swasti Sari 2026–2028, Tegaskan Disiplin Anggota dan Penguatan Pelayanan

Perayaan Idul Adha tidak dapat dipisahkan dari kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Dalam tradisi Islam, Nabi Ibrahim menerima perintah dari Allah untuk mengorbankan putranya sebagai ujian keimanan.

Dengan penuh kepasrahan dan ketulusan, Nabi Ibrahim bersedia melaksanakan perintah tersebut, sementara Nabi Ismail menerimanya dengan keikhlasan.

Namun, sebelum pengorbanan itu terjadi, Allah menggantikannya dengan seekor hewan sembelihan (Q.S. 37:104-107).

Ibrahim sungguh bertaruh nyawa. Hanya lewat sebuah mimpi, sang kekasih Allah itu berani mengorbankan putra tercintanya. Sementara Ismail dengan tulus bersedia memenuhi perintah Allah lewat ayahnya.