Kristo yang juga merupakan politisi senior Partai Amanat Nasional (PAN) menilai, visi Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena dan Wakil Gubernur NTT Johnny Asadoma tidak akan terwujud secara optimal apabila mesin birokrasi tidak berjalan dengan baik dan profesional.
Karena itu, ia menekankan pentingnya memilih Sekda yang memiliki rekam jejak birokrasi yang kuat, kompetensi mumpuni, kecakapan manajerial, kapasitas kepemimpinan, serta integritas yang teruji.
“Sekda harus menjadi birokrat unggul, apalagi di era global saat ini. Ia harus mampu menggerakkan seluruh ASN dan perangkat daerah untuk menyukseskan visi gubernur dan wakil gubernur,” tegasnya.
Kristo juga menyoroti agenda besar Pemerintah Provinsi NTT terkait peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang ditargetkan mencapai Rp2,8 triliun pada tahun 2026. Menurutnya, target ambisius tersebut tidak dapat dicapai dengan pola kerja biasa-biasa saja.
“Target PAD ini membutuhkan kerja keras, energi besar, dan cara berpikir out of the box. Pola kerja rutin tidak lagi cukup. Harus ada terobosan dan inovasi yang belum pernah dilakukan sebelumnya,” katanya.
Lebih lanjut, Kristo menegaskan bahwa Sekda yang terpilih harus memiliki pemikiran transformatif. Sekda dituntut mampu mengubah mindset kerja ASN dari pola lama yang cenderung administratif dan rutinitas menuju budaya kerja baru yang adaptif, responsif, dan berorientasi pada hasil.












