“Ke depan tantangan kita adalah tenaga kerja terdidik yang tidak mendapatkan pekerjaan. Kalau ini tidak dipersiapkan dengan baik, kampus akan diidentikkan sebagai tempat transit menuju pengangguran yang sesungguhnya,” ujarnya menambahkan.
Fredy menilai, perguruan tinggi di NTT seharusnya menjadi motor utama dalam mencetak sumber daya manusia (SDM) yang siap kerja.
Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa banyak lulusan kampus masih kesulitan bersaing karena orientasi pendidikan yang terlalu teoritis dan belum terhubung dengan kebutuhan industri.
“Kampus jangan hanya jadi tempat belajar teori. Harusnya kurikulumnya disesuaikan dengan kebutuhan dunia kerja. Anak-anak dididik agar siap kerja, bukan hanya siap wisuda,” ungkapnya.
BLK Belum Dikelola Secara Optimal
Selain perguruan tinggi, Fredy juga menyinggung keberadaan Balai Latihan Kerja (BLK) dan lembaga pelatihan lainnya di daerah yang dinilai belum dikelola secara optimal.
Banyak program pelatihan yang digagas pemerintah maupun melalui aspirasi DPRD belum menunjukkan hasil signifikan terhadap peningkatan kompetensi tenaga kerja.
“BLK sudah banyak buat pelatihan, tapi tidak produktif. Banyak pokir (pokok pikiran) anggota DPRD juga diarahkan ke sana, tapi kalau tidak dikelola dengan baik, hasilnya tidak ada,” tegasnya.












