Menurutnya, sebagian besar masyarakat masih hidup dari pertanian subsisten dan penjualan hasil alam mentah tanpa proses pengolahan.
“Kita masih hidup dari pertanian subsisten. Ambil hasil kebun langsung jual, hasil hutan langsung jual. Industri pengolahan kita masih sangat minim,” ujarnya.
Ia menyebut kontribusi sektor primer dalam struktur ekonomi NTT sangat tinggi, sementara sektor industri pengolahan hanya sekitar 12 persen.
Padahal, menurut Kristo, daerah akan sulit meningkatkan pendapatan apabila belum memiliki industri pengolahan yang kuat.
“Kalau masyarakat menghasilkan produk dengan nilai tambah tinggi, otomatis harga jual lebih baik, ekonomi masyarakat meningkat dan kemampuan bayar pajak juga meningkat,” jelasnya.
Biaya Logistik Tinggi Jadi Beban Daerah
Selain itu, Kristo juga menyoroti tingginya biaya logistik di NTT akibat kondisi geografis daerah kepulauan.
Menurutnya, biaya operasional pemerintahan di NTT jauh lebih tinggi dibanding daerah lain di Pulau Jawa karena akses antarwilayah yang sulit.
“Kalau di Banten atau Bandung Bali itu satu daratan. Biaya perjalanan dan distribusi barang lebih murah. Tetapi di NTT karena daerah kepulauan, biaya logistik dan operasional pemerintahan menjadi tinggi,” katanya.












