Di pinggir jalan saya berbincang dengan beberapa warga. Tidak ada kemarahan yang meledak-ledak. Tidak ada makian kepada pemerintah. Yang ada hanyalah wajah-wajah sederhana dengan harapan yang terus dipelihara.
“Kami tidak minta jalan tol. Kami hanya ingin jalan yang layak,” ujar seorang warga sambil tersenyum tipis.
Kalimat itu sederhana. Namun bagi saya, kalimat tersebut jauh lebih berat daripada beban kendaraan yang setiap hari melintas di ruas jalan itu.
Di jalan inilah petani membawa hasil panen yang menjadi sumber penghidupan keluarganya.
Di jalan inilah anak-anak berangkat mengejar cita-cita menuju sekolah. Di jalan inilah guru mengabdikan diri, tenaga kesehatan membawa harapan bagi pasien, dan para pedagang menggantungkan rezekinya.
Setiap lubang yang dibiarkan bukan sekadar kerusakan aspal. Ia perlahan menggerus rasa percaya bahwa pembangunan benar-benar hadir hingga ke pelosok.
Setiap guncangan kendaraan bukan hanya menggoyang roda, tetapi juga mengguncang harapan masyarakat yang telah lama menunggu perhatian.
Empat kilometer memang tampak kecil di atas meja perencanaan. Namun bagi masyarakat Wolowaru dan Jopu, empat kilometer itu adalah jalan kehidupan.











