Di pasar obligasi, imbal hasil (yield) US Treasury tenor 10 tahun berada di level 4,27 persen, sementara obligasi pemerintah Indonesia tenor sama sekitar 6,82 persen. Selisih yang semakin sempit ini mengurangi daya tarik investasi di pasar domestik.
Rupiah Melemah, Risiko Domestik Meningkat
Tekanan juga terlihat pada nilai tukar rupiah yang mendekati level psikologis Rp17.000 per dolar AS. Pada perdagangan terakhir, rupiah berada di kisaran Rp16.978 per dolar AS.
Dari dalam negeri, kekhawatiran muncul terkait ketahanan energi nasional. Cadangan bahan bakar minyak (BBM) disebut hanya cukup untuk sekitar 20 hari, sehingga meningkatkan sensitivitas terhadap lonjakan harga minyak global.
Selain itu, wacana pelebaran defisit anggaran di atas 3 persen juga menjadi perhatian pelaku pasar karena dapat memengaruhi persepsi risiko terhadap perekonomian Indonesia.
Di sektor pasar modal, investor juga mencermati pembenahan industri setelah adanya pembekuan izin aktivitas penjamin emisi pada sejumlah perusahaan sekuritas, yang berpotensi memengaruhi pipeline penawaran umum perdana saham (IPO).
IHSG Uji Level Psikologis, Investor Diminta Waspada
Dalam perdagangan terakhir, IHSG sempat menguji level support psikologis di angka 7.000. Meski demikian, terdapat sinyal positif dengan mulai masuknya kembali dana asing sekitar Rp1 triliun di seluruh pasar setelah tekanan jual sebelumnya.












