Aku terdiam.
Kalimat yang sederhana… tapi terasa berat.
“Selama ini aku nyaman sama kamu. Tapi… aku sudah dekat dengan orang lain.”
Tanganku mulai dingin.
Dan saat aku membaca kalimat berikutnya, semuanya runtuh.
“Dan orang itu… Arga.”
Aku membaca pesan itu berulang kali.
Seolah berharap huruf-hurufnya berubah.
Namun tidak.
Yang berubah justru perasaanku.
Untuk pertama kalinya, aku merasakan kehilangan…
pada sesuatu yang bahkan belum sempat kumiliki.
Keesokan harinya, kami tetap bertemu.
Di kelas yang sama.
Di lingkaran yang sama.
Tercin tetap tersenyum padaku.
Arga tetap menepuk pundakku seperti biasa.
Dan aku…
Aku belajar tersenyum, sambil menyembunyikan luka.
Kini aku masih berada di tempat yang sama.
Masih melihat mereka tertawa bersama. Namun aku tidak lagi berharap. Aku hanya belajar menerima.
Bahwa tidak semua cinta harus dimiliki. Bahwa tidak semua perasaan harus diungkapkan tepat waktu.
Dan bahwa…
cinta tidak selalu dimenangkan oleh yang paling tulus. Kadang, cinta dimenangkan oleh mereka yang lebih berani.
Aku, Darman…
pernah terjebak dalam cinta yang tumbuh dari kebersamaan.
Namun akhirnya aku mengerti…bukan karena aku kurang mencintai, tapi karena aku terlalu lama diam. Dan dalam dunia yang terus berjalan…cinta tidak pernah menunggu mereka yang hanya berani dalam hati.











